Cang Panah dengan Pak Abdullah
Inilah
hasil wawancara saya dengan pedagang sayuran untuk tugas mata kuliah
Introduction of Micro Finance mengenai
perekonomian di Aceh saat ini. Saya mewawancarai salah satu pedagang sayuran yang
bernama Abdullah, berumur 59 tahun dan bapak Abdullah tinggal di Setui Banda
Aceh.
1. Sejak
kapan bapak Abdullah berjualan disini ?
Saya sudah berjualan sejak jaman dulu, saya
tidak sekolah dan ikut orangtua berjualan. Ini usaha dari orangtua saya. Sejak
saya yang berjualan sebelumnya saya pernah berjualan di lambaro terus saya
berjualan didepan rumah karena tidak sanggup lagi (faktor usia), di pasar
Setui ini saya dibantu anak saya dan
baru saja berjualan setelah pasar di renovasi karena ajakan dari anak saya
2. Berapa
laba yang bapak dapat/hari ?
Disini lebih kurang Rp100.000 – Rp150.000/hari.
Kalo hari minggu bisa lebih banyak neuk
3. Dimana
biasanya bapak mengambil atau beli barang dagangan bapak ?
Anak saya yang selalu mengambil di Lambaro,
kadang juga ada mobil yang datang kemari, saya cuma jual saja yang lain anak
saya yang bantu
4. Kenapa
bapak berjualan sayuran ketimbang
berdagang yang lainnya ?
Karena dari jaman dulu orang tua saya sudah
berjualan ini, makanya saya tidak pernah terpikir untuk jualan yang lainnya.
Saya cuma ngerti jualan sayuran
5. Bagaimana
menurut bapak, apakah perekonomian sekarang ini semakin sulit atau mudah yang bapak rasakan ?
Yang saya rasakan semakin hari semakin susah,
semua barang harganya mahal. Jaman sekarang kalau gak punya uang gak bisa apa
apa kita apalagi sekarang teknologi makin canggih. Beda dengan jaman saya dulu
walaupun teknologinya belum canggih tapi semua bisa kita lakukan sendiri
6. Apakah
menurut bapak ini juga dampak dari siapa pemimpin kita ?
Saya tidak mengerti dengan masalah kepemerintahan,
mungkin saja ada hubungan dengan pemimpin kita yang lebih mementingkan
urusannya sendiri tapi saya sama sekali tidak mengerti tentang itu.
7. Apa
yang bapak ketahui tentang APBA ?
Yang saya tahu APBA itu Anggaran Pendapatan
Belanja Aceh. Anggaran tersebut untuk pembangunan di Aceh
8. Apakah
bapak merasakan dampak dari adanya APBA ?
Menurut apa yang saya lihat untuk masyarakat belum
menyeluruh. Saya sama sekali tidak mengerti tentang hal ini tapi bagi saya
selama tidak menyulitkan masyarakat apalagi biaya untuk rumah sakit insyaAllah tidak
masalah, karena pengalaman ketika saya sakit semua pengurusannya Alhamdulillah
tidak ada masalah. Yang saya tahu pembangunan Meuligo Wali Nanggroe memakai
uang rakyat karena berita sedang banyak dibicarakan
9. Bagaimana
tanggapan bapak tehadap pembangunan Meuligo Wali Naggroe ?
Saya dulu sedikit tahu tentang sejarah Aceh
tapi cuma tahu gitu gitu saja, ungkap pak Abdullah. Yang saya tahu memang ada perjanjian ketika MOU
Helsinki tentang wali nanggroe tapi saya tidak ngerti apa tujuan dibangunnya Meuligo
yang banyak sekali menghabiskan uang rakyat
Kesimpulan
yang dapat saya ambil dari hasil wawancara ini adalah banyak para pedagang yang
tidak mengerti tentang perekonomian di Aceh, mereka hanya memikirkan tentang
dagangan mereka untuk menghidupkan keluarganya
Comments
Post a Comment